YAMA Jogja, 1983. Kota masih menyimpan bayangan. Di sudut-sudut Pajeksan yang basah oleh sunyi dan darah tak tercatat, seorang lelaki tanpa jubah muncul dari lorong gelap-membawa tas ransel, jaket lusuh, dan tatapan yang tak bisa dibaca. Namanya Arno. Dulu preman jalanan. Sekarang… bukan siapa-siapa. Tapi sejak retakan dimensi tertutup empat tahun lalu, ia tak lagi […]
Komentar